
PASER – Bau kandang sapi dan tanah basah tak menyurutkan langkah para kader Pimpinan Daerah Nasyiatul Aisyiyah (PDNA) pada Sabtu pagi, 7 Februari 2026.
Dibalik limbah yang kerap dihindari, mereka justru menemukan harapan baru, pengetahuan tentang bagaimana sisa-sisa peternakan dapat diolah menjadi sumber kesuburan bagi tanaman pekarangan.
Dari ruang diskusi hingga praktik langsung di kandang, kader PDNA belajar bahwa ekonomi sirkular bisa dimulai dari hal yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Kegiatan tersebut merupakan Pengabdian kepada Masyarakat bertema Pendampingan Kader PDNA dalam Circular Economy, Pemanfaatan Limbah Peternakan untuk Pertanian Rumah Tangga.
Program ini didanai melalui Hibah RisetMu Batch IX PP Litbang Muhammadiyah dan diketuai oleh Ardaniah, S.P., M.P., dosen Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian dan Bisnis Digital (FPBD), Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur (UMKT) Kampus Paser, bersama tim pengabdi.
Ardaniah menyampaikan kegiatan ini merupakan salah satu bentuk pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat.
“Bertujuan untuk berbagi pengetahuan dan keterampilan yang aplikatif serta bermanfaat langsung bagi Masyarakat khususnya bagi kader Nasyatul Aisyah Paser,” tutur Ardaniah, Selasa (10/2/2026).
Tema yang kami angkat dilatarbelakangi oleh potensi limbah peternakan yang melimpah di lingkungan sekitar, namun belum dimanfaatkan secara optimal.
Padahal, limbah tersebut dapat diolah menjadi pupuk organik yang berguna untuk mendukung pertanian rumah tangga yang berkelanjutan, ramah lingkungan, dan ekonomis.
“Sejak awal kegiatan, para kader diajak mengubah cara pandang terhadap limbah peternakan dan sisa organik rumah tangga,” sebutnya.
Bahan-bahan yang selama ini dianggap tidak berguna diperkenalkan sebagai sumber daya penting dalam mendukung pertanian rumah tangga dan ketahanan pangan keluarga.
Pemateri utama bernama Jadi, S.P. yang merupakan Penyuluh Pertanian di BPP Kuaro, membuka sesi dengan praktek sederhana menguji ada atau tidaknya unsur hara dalam tanah dan air di sekitar rumah kader.
Dengan alat dan bahan yang mudah diperoleh, peserta belajar mengenali kondisi media tanam mereka secara mandiri.
“Kita tidak perlu alat mahal. Dari bahan sederhana, ibu-ibu sudah bisa mengetahui kondisi tanah dan air di sekitar rumah, sehingga bisa menentukan perlakuan yang tepat untuk tanaman,” jelas Pak Jadi.
Pada sesi berikutnya, peserta dibekali materi pembuatan pupuk kompos dari sisa tanaman, dedaunan, dan limbah peternakan. Menurut Pak Jadi, pupuk organik buatan sendiri memiliki kualitas yang tidak kalah dibandingkan pupuk pabrikan.
“Kalau dibuat dengan benar, pupuk organik itu sangat hebat. Selain menyuburkan tanah, biayanya jauh lebih murah dan lebih aman bagi lingkungan,” tambahnya.

Puncak kegiatan terjadi saat para kader diajak turun langsung ke kandang sapi. Di lokasi tersebut, peserta menyimak proses pembuatan pupuk kandang, mulai dari pengumpulan kotoran sapi, proses pengomposan, hingga cara pengaplikasiannya pada tanaman pekarangan.
Pengalaman lapangan ini memberi gambaran nyata bahwa limbah peternakan dapat diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat.
Pendampingan juga diperkuat dengan kehadiran Isnaini sebagai Penyuluh Pertanian di BPP Kuaro, yang menjelaskan pembuatan trichokompos, pupuk organik padat hasil dekomposisi bahan organik berupa kotoran hewan dan sisa tanaman yang diperkaya dengan jamur antagonis Trichoderma sp.
“Trichokompos ini tidak hanya menyuburkan tanah, tetapi juga membantu menekan penyakit tanaman karena mengandung jamur antagonis yang bermanfaat,” terang Isnaini.
Sebagai mitra kegiatan, Ketua PDNA Wiwi Handayani, S.P., menegaskan pentingnya keberlanjutan praktik yang telah dipelajari.
“Kegiatan ini membuka wawasan kader bahwa ekonomi sirkular bisa diterapkan dari rumah. Ilmu yang diperoleh hari ini kami harapkan langsung dipraktekkan dan ditularkan kepada kader lain serta masyarakat sekitar,” ujarnya.
Sebagai bekal awal berkebun secara organik di rumah, setiap peserta juga dibekali pupuk trichokompos buatan Pak Jadi serta benih kangkung dari tim pengabdi.
Bekal sederhana ini menjadi simbol keberlanjutan program, bahwa pembelajaran tidak berhenti di lokasi kegiatan, tetapi terus tumbuh di pekarangan rumah masing-masing.
Dari rumah hingga kandang sapi, dari limbah hingga benih, kader PDNA pulang membawa pengetahuan, keterampilan, dan harapan untuk membangun pertanian rumah tangga yang ramah lingkungan, mandiri, dan berkelanjutan.







